Tag: Faisal Manoppo
-

Drama Picisan Murahan
Wajah cengengesan tidak tahan saya luapkan ketika membayangkan sedemikiankah repot dan kalutnya cara menghadapi tulisan (sebelum) ini sehingga harus merengek meminta bantuan. Tulisan—yang saya anggap malah mempertontonkan kepandirannya—(katanya ditulis) Sehan Ambaru (lihat:https://dutademokrasi.com/2017/05/analisa-sempit-faisal-manoppo/), ini sepintas nampak sedikit ada kemajuan meski hanya beda seujung kuku dengan tulisan (sesungguhnya) yang pertama (buka:http://www.bolmora.com/2017/05/07/si-gila-dari-gua-hantu-tanggapan-atas-tulisan-faisal-manoppo/). Tidak jadi soal siapa dan apa, maksud menggantikan…
-

Sebelum Akhir Segalanya Terlambat, Pulau Lampu Tidak Butuh Bantuan Manusia
Oleh : Faisal Manoppo (Wartawan Harian Komentar) Air laut di pantai keruh berminyak; sampah berserakan sejauh mata memandang; aroma tak sedap menyengat di mana-mana; adalah pemandangan yang tidak jarang dijumpai ketika alam menjadi objek wisata. Banyak contoh—tidak usah jauh-jauh: Pulau Bunaken. Satu akar penyebabnya bukan siapa melainkan manusia itu sendiri. Jauh sebelum pulau ini menjadi…
-

Pulau Lampu, Sepenggal Surga yang Hilang
Oleh : Faisal Manoppo (Reporter Harian Komentar) Butiran halus pasir putih bak sagu terhampar disepanjang bibir pantai. Lautnya sangat bening berwarna kebiruan seperti bentangan langit yang bersih dari gumpalan awan. Tenang tak berbuih. Karang-karang dan ikan-ikan kecil dapat terlihat jelas hingga kedalaman lima meter. Udaranya semilir membawa keteduhan. Ini adalah gambaran kecil dari sejuta nikmat…

